Pages

Monday, February 28, 2011

Sailing Stones, Batu Yang Dapat Bergerak Sendiri di Death Valley



Dikenal dengan nama Sailing Stone Death Valley alias Lembah Kematian. Mengapa dinamakan Sailing Stone? Biasanya jika batu terlempar dari tempat jauh pada suatu area maka batu tersebut akan berguling, berputar-putar pada sumbunya hingga berhenti pada suatu tempat. Tapi batu misterius ini tidak demikian. Itulah keunikannya. Batu-batu ini meluncur diatas tanah dengan satu sisi seolah-olah sebuah perahu meluncur diatas permukaan air. Satu lagi fakta unik ditemukan.
Ini adalah salah satu misteri besar bahwa batu yang beratnya kurang lebih seperti berat orang dewasa dapat bergerak sendiri. Hal ini telah menjadi teka-teki cukup rumit dalam dekade terakhir. Batu misterius Death Valley telah ditemukan di atas lembah yang tidak ada pemukiman manusia dan lembah ini dipenuhi dengan tanah berlumpur kering retak selama musim panas dan es selama musim dingin. Banyak ahli geologi telah pergi ke tempat ini yang dikenal dengan Racetrack Playa dan sekitarnya.

Batu berlayar misterius Death Valley bergerak di tanah dan meninggalkan jejak sangat halus di belakang. Beberapa geolog datang dengan kesimpulan bahwa batu misterius Death Valley bergerak melalui tanah halus ketika lumpur basah oleh tetesan es dan batu meluncur diatasnya dengan bantuan angin. Namun ini tidak sepenuhnya benar karena batu bergerak selama musim panas saat suhu terlalu tinggi dan bahkan mengering dengan sendirinya. Dalam hal ini mungkin bisa kita katakan sebagai misteri jagad, misteri sains dan fakta unik yang belum terpecahkan.

Batu misterius Death Valley merupakan fenomena yang luar biasa dalam arti bahwa mereka bisa bergantian dan berbeda. Ini adalah pikiran menantang karena batu misterius Death Valley mulai bergerak ke arah paralel. Seperti tahun-tahun berjalan, setiap batu mengambil jalan sendiri yang berbeda. Beberapa batu membuat linier ternyata lain membuat oval sementara yang lain membuat bentuk bergelombang pada jejak mereka. Tak seorang pun pernah melihat mereka bergerak dan tidak ada yang tahu kecepatan mereka bergerak. Beberapa batu bergerak lebih jauh dari yang lain selama dua sampai lima tahun.

Ada dua teori utama mengenai penyebab fenomena ini. Yang pertama mengatakan, penyebabnya adalah lapisan es tipis di atas permukaan tanah. Lainnya, yakin penyebabnya kelembaban dan angin.

Seperti dimuat situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), 17 mahasiswa dan lulusan Lunar and Planetary Sciences Academy (LPSA) NASA's Goddard Space Flight Center di  Greenbelt baru-baru ini mengunjungi lokasi itu -- untuk menginvestigasi bagaimana batu-batu itu bergerak melintasi dataran yang nyaris kosong.

Beberapa batu diyakini bergerak secepat orang berjalan. Tapi, tak ada satupun pernah melihat batu-batu itu bergerak. Para ilmuwan juga belum menyimpulkan, apa sebenarnya yang membuat bebatuan bergerak.

Spekulasi yang beredar, karena dipindahkan hewan, pengaruh gravitasi, atau gempa bumi dengan cepat diabaikan, memberi ruang belajar dan spekulasi.

"Ketika melihat batu dan jejaknya yang menakjubkan, Anda akan memasuki ruang berisi ide tentang apa yang sebenarnya terjadi," kata Mindy Krzykowski, magang dari Universitas Alaska di Fairbanks.

Tim dibagi lima masing-masing dipimpin seorang ilmuwan Goddard. Tugas mereka, mengumpulkan data, koordinat GPS dari masing-masing batu dan memotonya.

Mereka menggali sensor kecil yang disebut Hygrochrons, yang atas seizin pihak Taman Nasional, telah terkubur tiga bulan sebelumnya. Sensor itu menangkap data suhu dan kelembaban.

Tim juga menandai batas jejak dengan paku payung, masuk ke celah-celah tanah liat untuk mengukur panjang, lebar, dan dalamnya. Mereka membenarkan pengamatan sebelumnya bahwa beberapa batu besar  bergerak lebih jauh dari yang kecil.

"Apa yang terjadi di Racetrack Playa begitu rumit. Tidak segera diketahui, data apa yang sebenarnya relevan," kata Brian Jackson, salah satu pemimpin tim.

Dia dan koleganya telah mempelajari Racetrack Playa sejak tahun 2006 dan baru-baru ini menerbitkan sebuah laporan yang  membandingkan situs itu dengan danau kering di satelit Saturnus, Titan.

Sempat  muncul spekulasi bahwa apa yang terjadi di Racetrack Playa memiliki unsur yang membantu mereka bergerak.

Namun,  batu-batu tersebut hanya batu dolomit gelap yang kebetulan ada di daerah dataran tinggi. "Batuan dolomit relatif umum. Justru lokasi di mana batu-batu itu ada  yang membuat mereka spesial," tambah Jackson.

Leva McIntire dari Seattle Pacific University, memiliki hipotesis lain.

Dia menduga bahwa batu bergerak oleh regelation -- proses yang biasanya berhubungan dengan gletser dan gunung-gunung.
Regelation disebabkan oleh perbedaan tekanan pada dua sisi objek. Air di satu sisi tetap cair dan bocor di sisi lain, memerangkap gelembung udara di sisi kedua, yang berbentuk es.

McIntire berpikir ini bisa terjadi pada playa tersebut. Dia mencatat bahwa ada formasi gelembung-seperti di tanah liat di samping batu tertentu.

"Teori ini mungkin dapat menjelaskan bagaimana memindahkan batu besar," katanya, "karena tidak memerlukan daya pengapungan dari batu."
Belum disimpulkan penyebab pasti pergerakan batu. "Tak semua masalah dalam ilmu planet terpecahkan," kata Mindy Krzykowski.





No comments:

Post a Comment