Pages

Monday, February 21, 2011

Candi Bawah Laut di Bali, Proyek Konservasi Terumbu Karang

  
Beberapa waktu ini muncul heboh penemuan candi bawah laut yang disebut-sebut berada di antara Laut Jawa dan Bali. Bahkan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berjanji menurunkan tim untuk mengecek benar-tidaknya kabar tersebut meski sempat meragukan kebenarannya.

Gambar-gambar mirip peninggalan candi kuno di bawah laut itu pertama kali disebarkan oleh seorang pengguna Twitter. Orang itu menyebutkan telah ditemukan sebuah candi bawah laut di sejumlah titik di perairan antara pulau Jawa dan Bali.



Sontak berita itu ditindaklajuti oleh sejumlah media nasional terkemuka di Indonesia.

Sejumlah ahli arkeologi dan pejabat pemerintah yang bertanggung jawab terhadap peninggalan bawah laut yang diwawancarai berbagai media mengaku belum pernah mendengar temuan itu dan berjanji akan menyelidikinya.

Sebagian liputan mengenai “peninggalan candi Hindu” itu juga memperdebatkan keaslian foto-foto dan menawarkan berbagai teori bagaimana sebuah candi bisa tenggelam di bawah laut.

Namun, kemudian diketahui bahwa foto-foto itu diambil dari blog milik seorang pengusaha alat-alat selam di Pemuteran, Bali, Paul Turley.

Warga Inggris pemilik perusahaan selam PT Sea Rovers itu mengatakan, dia memasang foto-foto itu di blognya Mei 2009, untuk memperlihatkan keindahan taman terumbu karang buatan bernama Taman Pura kepada wisatawan yang tertarik untuk menyelam.

Kepada BBC dia mengaku terkejut ketika tiba-tiba pada hari ini blog miliknya kebanjiran pengunjung.

“Saya tidak tahu bagaimana tiba-tiba banyak orang melihat laman itu. Saya membaca beritanya di internet bahwa ada orang yang memposting foto-foto saya,” kata Paul.

Dalam laman Paul itu disebutkan bahwa taman terumbu karang bernama Taman Pura ditenggelamkan tahun 2005 sebagai bagian dari proyek konservasi terumbu karang di daerah Pemuteran.

Namun, dia mengatakan pada awalnya setelah berita mengenai “candi bawah laut” ini tersebar di media, tidak ada yang mengkonfirmasi kepadanya sampai hampir sore hari.


Proyek Konservasi

Namun, misteri candi bawah laut tersebut kini telah terpecahkan. Candi tersebut memang benar ada, tepatnya di daerah Pemuteran, perairan Bali utara. Namun, candi tersebut bukanlah peninggalan arkeologis melainkan candi buatan yang sengaja dibangun di kawasan konservasi terumbu karang.





Hal tersebut dikatakan Paul M Turley, pemilik Sea Rover Dive Center yang mengambil foto-foto kontroversial tersebut, seperti dilansir situs the Jakarta Globe. Candi buatan yang diberi nama Taman Pura itu dibangun mulai tahun 2005 pada kedalaman 15-29 meter.

Kawasan tersebut merupakan bagian dari proyek konservasi terumbu karang Reef Gardiners yang mendapat dukungan dana dari Australian Agency for International Development (AusAid). Di sana terdapat 10 patung dan sebuah struktur candi yang kini sudah diselimuti karang.



Keberadaan bentuk bangunan menyerupai candi, namun sebenarnya taman pura di dasar laut kawasan Teluk Pemuteran, Kabupaten Buleleng, wilayah utara Bali, ternyata bukan misteri.

Taman pura bawah laut atau "underwater temple garden" Pemuteran yang sempat menghebohkan dunia itu, merupakan areal penyelaman tambahan ketiga di kawasan Tangkad Jaran, Pemuteran, yang selama ini juga sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata di Bali.

"Itu kami bangun sejak tahun 2005 pasca-krisis menyusul terjadinya bom Bali kedua, dengan bantuan dana dari AusAid," kata Chris Brown, Koordinator Reef Garderner Pemuteran, kepada penulis seusai menemani penyelaman di kawasan tersebut.




Obyek penyelaman yang sempat dihebohkan sebagai candi misterius, termasuk mengundang perhatian Dirjen Pemasaran Depbudpar Sapta Nirwanda itu, berada di kedalaman 15 - 28 meter pada areal dasar laut seluas 2.500 meter persegi.

Di dalam areal taman laut itu kondisinya tertata apik, dengan candi bentar atau model gerbang khas Bali berukuran tinggi empat meter dan sepuluh patung batu ukuran besar.

Menurut Chris Brown, struktur candi bentar ditenggelamkan tahun 2005 setelah Pemuteran mendapat penghargaan ASEANTA sebagai kawasan wisata konservasi lingkungan.

Di tahun 2006, sejumlah patung batu ditenggelamkan sebagai pelengkap taman pura bawah air tersebut. "Terumbu karang mampu tumbuh subur di media batu beton dan cadas, seperti yang anda lihat," ucapnya.

Menurut Chris Brown yang juga pemilik ReefSeen Dive Centre, Teluk Pemuteran secara alamiah memiliki sejumlah tempat penyelaman. Namun perubahan iklim dan ketidakpahaman masyarakat nelayan untuk memelihara sumber daya itu, mengakibatkan terumbu karang di kawasan Pemuteran hancur.

Setelah program rehabilitasi dan konservasi pesisir menggunakan system "biorock" berhasil, masyarakat dan pelaku industri wisata di Pemuteran membangun sejumlah tempat penyelaman baru sebagai pelengkap objek yang telah ada.

Selain memperkaya produk wisata, penambahan objek tersebut juga digunakan sebagai tempat berlatih dalam upaya meningkatkan keahlian dan kinerja kelompok tukang kebun laut (reef garderner) yang berjumlah 20 orang di Pemuteran. 

No comments:

Post a Comment